I wish, I was never born

Pikiranku kacau, aku merasakan keramaian dalam pikiranku seperti jalan raya yang ramai. Semua memori lama tersirat seperti film yang diputar secara bersamaan. Aku enggan melihatnya, namun aku tak bisa mengelak. Itu alasannya aku menangis. Namun tak satupun dapat mendengar tangisanku, hanya aku dan bayanganku.

Hatiku berteriak. Aku ingin pergi! Aku tidak tahan berada disini, namun pikiranku menahan, pergi kemana ? kau tak punya tempat berlindung dan bersandar dimanapun. Ini yang membuat dadaku terasa sesak. Aku pernah memiliki satu tempat yang nyaman, namun kini tempat itu telah menghilang, entah kemana.

Aku pernah mengatakan padanya, “ragaku memang masih hidup, namun jiwaku seperti mati. Bagaikan tanaman yang telah mati, sulit atau bahkan tidak mungkin hidup kembali.”. Saat terakhir membagi cerita, ia tahu seberapa kuatnya aku melewati ini, seberapa bisanya aku menyeimbangkan diri dengan hidupnya dan seberapa dalam kesedihan yang ku kubur. Dia pecinta hujan, dan aku pecinta awan gelap.

Ketika malam datang, dan semakin malam inilah yang sangat aku takutkan. Bukan karena kegelapan atau kesunyian, namun aku takut pada pikiranku sendiri. Aku menyapa Tuhan dan berkata kalau aku bukan penyembah-Nya yang taat, namun kenapa Kau memilihku untuk dihidupkan di dunia ini ? untuk merasakan dunia ? untuk merasakan kebahagiaan yang fana ? dan mendapat siksa ketika aku kembali pada-Mu ? maafkan aku, tapi kenapa harus aku ?.

Aku lelah, aku bahkan kehilangan harapan. Mereka pelindungku, namun justru aku merasa terkekang. Mereka menyayangiku, namun mereka egois. Ia berkali-kali melontarkan kata-kata itu, namun tidak mengakui perbuatannya. Aku bukan anak yang taat, yang aku inginkan hanyalah sebuah kebebasan. Aku ingin merasa bebas seperti burung yang terbang sesuka hatinya kemanapun ia mau.

Mungkin di hatiku tersimpan sedikit dendam yang menakutkan. Aku yakin itu tidak akan hilang dan akan semakin parah jika aku mengalami hal yang lebih menyedihkan dari ini ataupun sama seperti ini. Namun, jika aku bertemu dengan orang yang tepat,  mungkin ia akan melumpuhkan hatiku dan menghapus dendam dan seluruh memori dari masa laluku.


Sebenarnya aku bimbang untuk menuliskan ini pada blog pribadiku, karena ini terlalu mendalami kehidupan dan privasiku. Namun aku yakin tak semua orang membaca ini, atau bahkan tidak ada sama sekali. Karena aku sadar tak ada yang perduli padaku. Ini hanya akan menjadi karya pribadiku yang terlahir dari jiwa yang lelah, yang tak memiliki tempat untuk bersandar. Sekedar membagi cerita pada diri sendiri.

Komentar